Bersama Kak Anty dan Jio: Bersua dengan Anak-anak Indonesia Juara di Negeri Seberang


 

Maryanti Hasugian dan Anak-anak Sekolah Binaan KBRI Malaysia

Annaenyonghaseyo, Chingu!

Ceritaku kali ini adalah tentang seorang teman yang menunjukkan eksistensinya di bumi menjadi lebih berarti dari sebelumnya. Menjadi seorang relawan bukan hal yang mudah. Relawan harus memiliki jiwa sosial yang tinggi, cinta kemanusiaan, minat dalam bidang sukarelawan, potensi melakukan kebaikan, dan yang paling penting adalah izin dari keluarga. Nah, aku akan membagi ceritaku tentang seorang Magister Pendidikan yang memilih jalan hidupnya sendiri sesuai dengan bakat yang dia miliki.

Maryanti Hasugian, M.Pd

Maryanti Hasugian atau yang lebih dikenal dengan Kak Anty (28), seorang Magister Pendidikan Anak Usia Dini dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang sekarang berprofesi sebagai Storyteller (Pendongeng) yang telah banyak melakukan perjalanan luar biasa dengan boneka kesayangannya yang bernama Jio. Gadis manis kelahiran Sibungke, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, adalah rekan kerja saya saat kami masih sama-sama mengajar di sebuah Sekolah Dasar di kota Medan.

Pengalaman Pertama Menjadi Seorang Volunteer

Di awal Agustus 2022, beliau berkesempatan menjadi salah satu delegasi Youth Changemaker Volunteering Chapter Malaysia Batch 3 yang diadakan oleh Changemaker Indonesia. Ini adalah sebuah anugerah yang luar biasa karena perjalanan baiknya didukung penuh oleh Changemaker Indonesia (Fully Funded). Menjadi salah satu perwakilan dari kota Medan dari 16 delegasi yang diberangkatkan menjadi momen yang tidak akan bisa dilupakan oleh beliau. Program Volunteering ini bertujuan untuk mengajar anak-anak Tenaga kerja Indonesia (TKI) di Klang, Kuala Lumpur, Malaysia, yang mana para relawan aktif memperkenalkan budaya Indonesia dan menanamkan semangat nasionalisme kepada anak-anak TKI, menunjang sarana pendidikan anak-anak TKI, dan memberdayakan para TKI di bidang wirausaha.

Misi Pertama yang Mengharukan

Beliau berangkat pada tanggal 1 Agustus 2022 melalui Bandar Udara Internasional Kualanamu ke Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur yang merupakan titik temu para delegasi dari berbagai daerah, seperti Medan, Tangerang, Lombok, Pontianak, Surabaya, dan Padang.

Kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah berkunjung ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dengan tujuan mengadakan studi banding, yang mana para relawan Changemaker Indonesia dan pihak sekolah saling bertukar informasi dan program. Berkat kepiawaian beliau mendongeng, pihak Sekolah Indonesia Kuala Lumpur mengundang beliau untuk mengisi acara di sekolah tersebut. Ini juga menjadi kehormatan dan pengalaman luar biasa untuk seorang Kak Anty.

Setelah mengisi acara, beliau masih harus menempuh jarak selama dua jam menuju tempat pengabdian yaitu salah satu sanggar/sekolah binaan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di daerah Klang. Di sini para relawan mulai melakukan banyak kegiatan, seperti mengadakan lomba semi Agustus (menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia), mengajar mengaji, dan penyerahan beasiswa untuk beberapa anak.

Sebelum kembali ke Indonesia, para relawan juga sempat menampilkan baju adat dan makanan khas dari daerah masing-masing (sudah dipersiapkan dari Indonesia). Beliau sendiri membawa ulos batak dan sambal teri kacang tanah khasnya kota Medan. Banyak cerita yang beliau kenang selama empat hari mengabdi menjadi relawan pendidikan di Malaysia. Menurut beliau, anak-anak TKI di Malaysia tidak berbeda jauh dengan anak-anak Indonesia yang tinggal di Indonesia. Walaupun, kurang lancar dalam berkomunikasi karena mereka sudah lama tinggal di Malaysia, sehingga mereka lebih fasih berbahasa Malay atau Melayu daripada berbahasa Indonesia. Mereka juga anak-anak juara yang kreatif, berpotensi, lucu, penyayang, dan tidak meninggalkan ciri khas bangsa Indonesia yaitu ramah-tamah. Beliau juga mengatakan bahwa kekeluargaan anak-anak TKI yang ada di sekolah binaan KBRI tersebut sangat kuat.

Tiga hari bukan waktu yang cukup untuk saling mengenal, apalagi anak-anak. Namun, beliau berkisah, ada satu waktu di mana seorang anak kelas 1 SD menghampiri beliau dan memberikan sosis yang dibalut dengan roti sembari berkata, “Ini untuk Cikgu.” Beliau merasakan haru, bahagia, dan bersyukur karena diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan anak-anak TKI yang ada di Malaysia dan mengabdi sebagai pendidik selama empat hari di sana. Apalagi, sambutan dari anak-anak tersebut sangat luar biasa terhadap para relawan.

Perjalanan beliau menjadi seorang volunteer membuktikan bahwa di mana pun bangsa Indonesia berada, ciri khas mereka tidak akan pernah hilang. Mendengar cerita Kak Anty saja sudah memberikan gambaran yang nyata bahwa setiap pengabdian adalah berkah dan berkah didapat karena ibadah.

Semoga kelak kita menjadi salah satu dari orang-orang baik yang akan melakukan perjalanan baik pula.


Hwaiting, Chingu!

Next Post
No Comment
Add Comment
comment url