Aku Harus Menjadi Hebat
Annaenyonghaseyo, Nina-ssi
![]() |
Sudah lama tak membuka blog setelah akhirnya blog-ku tidak gratis lagi. Hehe. Aku mulai dari mana dulu, ya? Banyak sekali yang ingin ku ceritakan di sini untuk kalian (siapapun yang berkenan untuk membacanya). Jujur saja, blog ini adalah diary online bagiku setelah beberapa buah diary-ku di masa lalu hilang tak tahu rimbanya. Jadi, maafkan kalau aku banyak mengulas tentang kehidupan pribadi di sini. Kupikir, kalian juga memiliki kehidupan pribadi yang istimewa untuk diceritakan. Ya, kan? Mari bertukar cerita! Hehe.
Ada satu hal yang ingin ku bagi pada kalian, tentang masa kecilku yang campur aduk. Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adikku seorang laki-laki dan terpaut usia tiga tahun dariku. Kami bahagia kala itu. Namun, di balik kebahagiaan itu, aku memiliki inner child atau trauma masa kecil yang sampai hari ini, sampai aku menikah dan punya dua orang anak, masih sulit terlepas dari kehidupanku sehari-hari. Aku yakin sebagian dari kalian juga mengalaminya.
Ayah dan ibuku memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Sebagai sulung dari sembilan bersaudara, ayah terkesan otoriter dan bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan kami. Namun, kupikir beliau sudah salah mengasuhku saat itu, walaupun sebenarnya tujuan beliau adalah untuk kebaikanku. Sementara itu, ibu yang lembut hati kurang perhatian padaku masa itu. Entahlah. Mungkin karena beliau lebih senang memiliki anak laki-laki daripada perempuan. Dalam adat batak, anak laki-laki menjadi anugrah yang luar biasa bagi sepasang suami-istri (mungkin untuk beberapa suku batak lainnya tidak seperti itu).
Ibu menunjukkan perhatian yang berlebihan pada adikku, sementara tidak untukku. Aku ingat semuanya karena aku sempat menulis sebuah curahan hatiku di buku kosong saat duduk di kelas lima sekolah dasar. Ini menjadi momen yang paling menyedihkan dan tidak terlupakan sampai hari ini. Siang itu, aku membuka kulkas dan melihat sebutir telur di dalamnya. Ku ambil telur tersebut, kemudian berjalan ke arah dapur. Ibu melihatku dan menangkap langkahku yang santai. Beliau mengatakan bahwa aku harus mengembalikan telur itu ke dalam kulkas karena itu milik adikku. Ah, anak umur sepuluh tahun terdiam. Aku benar-benar mengembalikan telur tersebut. Adakah yang lebih menyedihkan lagi dari kisahku ini? Semoga saja tidak, ya.
Tidak sampai di situ, ayahku yang otoriter sering menggunakan kekerasan saat aku melakukan kesalahan. Menghukum dengan mengunciku di luar rumah karena pulang terlambat (lewat azan Magrib), menampar kedua pipiku karena tak menjaga adikku dengan baik saat bermain, menyuruhku berjalan mengikutinya dari belakang karena ketahuan tidak puasa saat kelas dua sekolah dasar, mengunciku di kamar mandi dengan sepiring nasi putih campur ikan asin karena bermain di luar rumah saat beliau sedang memperbaiki mobilnya, dan masih banyak pola asuh yang menurutku salah waktu itu.
Namun, bukan berarti aku menyimpan dendam pada beliau. Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya semakin takut dan tak bisa mengungkapkan perasaan apapun itu pada ayah dan ibuku. Padahal, sebisa mungkin keluarga adalah tempat ternyaman untuk berkeluh kesah. Aku tak mendapati hal itu. Aku hanya bisa mengungkapkan semua ekspresiku ke dalam tulisan. Kupikir, hatiku sedikit tenang dengan meluapkannya di dalam diary.
Ah, betapa masa kecilku sedikit menyeramkan di balik kebahagiaan yang ku dapatkan. Aku tahu bahwa ini hanyalah pola asuh yang salah, tetapi bukan berarti ayah dan ibuku juga bersalah. Mereka sangat menyayangiku, juga adikku. Mungkin saja apa yang mereka lakukan di masa itu adalah untuk kebaikanku.
Saat ini aku berharap apa yang ku alami di masa lalu tidak terulang kembali pada kedua anakku. Apalagi, aku sudah banyak mengikuti webinar parenting dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan keluarga. Kalau dibilang sulit untuk menghindari trauma tersebut, sangat sulit. Untungnya aku memiliki suami yang sabar dan mendukungku untuk mengubah mindset-ku tentang masa lalu itu. Aku sedang berdamai sekarang.
Kalau kalian, bagaimana, Chingu?
Kok jadi agak sedih bacanya ya kak :)
Masih membacanya, kan, Bang? Bagaimana kalau bayangkan Abang di dalam ceritanya? Hehe.
Tentunya penting sekali untuk bisa memberikan kasih sayang yang seimbang kepada anak ya,kak. Terkadang memang bisa saja terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Sebagai ibu maupun calon ibu tentu harus pelajari ilmu parenting nih biar lebih tepat dan hebat dalam mendidiknya.
Benar, Kak. Namun, saat kita menghadapinya sendiri sebagai orang tua, sulit juga ternyata. Tidak segampang kata² expert dalam webinar parentingnya.
Punya trauma masa kecil itu memang cape banget. Tapi hatus semangat buat sembuh. Healing is a journey. Semangat kak!!
Wah, seperti bayangan yang mengikuti, Kak! Memang harus dari diri sendiri yang berusaha untuk menghilangkannya.
Tulisannya bagus bangeet, makasih ya dan semangat terus Kak!
Terima kasih, Bang.
sebagai seorang anak yang kini menjadi orang tua, pengalaman terberat pasti harapannya putus di kita dan tidak dilanjutkan ke anak. adil menurut orang tua zaman dulu kadang berbeda dengan yang seharusnya, keadaan pun juga mempengaruhi cara asuh orang tua. semoga kita kita menjadi orang tua yang sebenar-benarnya orang tua yang kita harapkan
terus semangat kak, setidaknya kita usahakan untuk tidak membuat keturanan kita merasakan hal yang sama dengan hal yang kita alami sebelumnya 🤗
Semangat terus kak... Kakak hebat setelah apa yg terjadi bisa tetap kuat dan engga dendam. Emang penting bgt ya belajar parenting ini biar kejadian yg sama engga terulang lagi dan keturunan kita bisa mendapatkan pola asuh yg tepat. Makasih sharing2nya kak, kita siap dengerin curhatan2 kakak.
Baca pos kakak, aku jadi teringat lagi, kadang kadang kita secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak, bisa meninggalkan luka untuk orang di sekitar kita. Semoga kita adalah manusia yang paling erat memeluk diri kita ya, dan juga bisa penuh kesadaran juga cintaaah dalam menjalankan peran kita sebagai orangtua
Kakak suka nulis yaa? Terlihat banget dari paragraf ke paragraf jahitannya terasa smooth hingga tidak terasa membacanya tau tau sudah habis. Fyi kak inner child sebenarnya ada kata yang belum tepat untuk dipakai. Terbaru ada penelitian dari kajian psikologi yang dilakukan oleh fakultas psikologi UGM di tahun ini atau akhir tahun kemarin kalo tidak salah bahwa inner child itu hanya berupa konsep. Karena sepanjang penelitian hingga saat ini tidak ada bukti empiris dan data data pendukung lainnya. Jadi bisa diganti dengan pengalaman negatif dimasa lalu. Terimakasih ya kak atas ceritanya sehingga menghadirkan perspektif baru bagi saya untuk mendidik anak kelak untuk tidak membedakan antara laki dan perempuan insyaallah
Tetap semangat ya kak. Walaupun dulu mengalami pola asuh yang menurut kita salah, mungkin ada maksud baik dari orangtua kita. Hanya saja caranya yang keras dan menyakitkan. Semoga tidak ada Inner Child yang masih terluka ya kak.