Saipar Dolok Hole: Bukan Sekadar Wisata tetapi Awal Hidup yang Baru

 Annyonghaseyo, Chingu 

Wah, sudah lama tak bersua, nih! Kalian baik-baik saja, kan? Semoga, ya. Kali ini aku ingin menceritakan sebuah tempat yang belum pernah ku kunjungi sejak lahir, tetapi setelah aku menikah, aku baru tahu ada daerah di bawah bukit yang begitu indah dengan adat istiadatnya yang cukup unik bagiku. Kita mulai aja, ya! Let's go!

Aku putri Pakpak yang menikah dengan seorang pemuda Toba yang lahir dan besar di daerah Tapanuli Selatan, tepatnya di Sidapdap, Saipar Dolok Hole. Kalau kalian pernah mendengar sebuah pesantren modern daerah Sipirok yaitu Pesantren Darul Mursyid, maka tak jauh dari pesantren itu adalah tempat tinggal keluarga suamiku. Sidapdap adalah salah satu desa di kecamatan Saipar Dolok Hole dengan kotanya Sipagimbar. Jika kalian datang dari Medan dan masuk dari arah Sipirok, lebih lama dua jam perjalanan daripada masuk dari arah Siborong-borong. Memang desa ini lebih dekat ke arah Tapanuli Utara. Dimulailah pengalamanku.


Sehari setelah menikah, keluarga suami membawaku ke kediaman mereka di sana. Atau mereka sebut Mangalap Boru (menjemput perempuan). Sebuah adat yang cukup unik yang mengingatkanku dengan adegan pernikahan di film-film Bollywood. Ramai orang menyambut kedatanganku dan suami di depan rumah. Tidak ada yang boleh turun dari mobil, sebelum pengantin wanita keluar lebih dulu. Ini membuatku berdebar-debar tentunya. Aku tidak mengenal semua orang, hanya suami dan keluarganya saja. Namun, begitulah adatnya. Aku turun dari mobil, kemudian disambut dengan hangat oleh ibu mertuaku dan seorang perempuan paruh baya yang tak ku kenal. Mereka berdua menggandeng kedua tanganku dan menarikku perlahan-lahan ke depan pintu rumah. Belum sampai kaki ini masuk ke dalam, ternyata tepat di depan pintu ada sebuah batang pisah yang sudah dibersihkan. Ibu mertuaku menyuruhku memijak batang pisang itu menggunakan kaki kiri. Aku memijaknya tanpa berpikir apa-apa. Tiba-tiba, sebuah suara keras terdengar. Batang pisang itu retak dan sedikit rusak. Lalu, ibu mertua menyemburkan (menyiramkan) beras kepadaku sambil mengucap syukur. Aku masih bingung. Apalagi, mereka semua menggunakan bahasa daerah yang sama sekali tidak ku mengerti. Ternyata tawa bahagia itu terjadi karena menurut adat, jika batang pisang dipijak hanya satu kali menggunakan kaki kiri oleh pengantin wanita, maka pasangan pengantin akan segera mendapatkan keturunan tanpa waktu yang lama. Boleh percaya atau tidak, ya. Memang, sih, aku dan suami tidak menunggu waktu yang lama untuk kehadiran seorang anak. Sebulan setelah menikah, aku dinyatakan positif hamil. Alhamdulillah. Nah, ini salah satu adat yang membuatku selalu teringat-ingat dan kadang bikin senyum-senyum sendiri. Hihi. Kayaknya pernikahan ala Bollywood yang ku impikan terwujudlah sedikit.

Adat yang unik juga belum sampai di situ saja. Esok harinya, kami berdua didudukkan di atas tikar adat. Lalu, satu persatu tetangga dan masyarakat di sekitar rumah berdatangan untuk melihat pengantin. Aku mulai berdebar-debar lagi karena bukan hanya sekadar datang, tetapi mereka membawa makanan khas yaitu Ittak Poul-poul, kue sederhana yang terbuat dari campuran tepung beras, gula aren, kelapa parut, dan garam, yang dibuat menggunakan tangan dengan cara dikepal. Setiap orang akan menyuapkan ittak yang mereka bawa kepada kami dan kami harus menilainya dengan memberikan imbalan (sesuai dengan kemampuan) yang sudah disiapkan di bawah tikar. Acara itu sempat membuatku terhibur karena kalian bisa membayangkan banyaknya tetangga yang datang membawa ittak, maka sebanyak itu pulalah mulutku dan suami penuh dengan ittak. Haha.

Foto by me : Ittak


Selanjutnya, ada yang lebih menggelikan hati. Keesokan harinya lagi, aku dan suami harus berkeliling desa sebagai perkenalanku terhadap masyarakat sekitar. Siapa tahu yang kemarin tidak sempat datang melihat, maka aku dan suamilah yang harus menunjukkan keberadaan kami di desa itu. Namun, bukan sekadar berkeliling naik motor sambil mesra-mesraan, ya! Aku dan suami harus berjalan kaki dengan pakaianku memakai jilbab, gamis/pakaian muslim lainnya, dibalut lagi dengan sarung, dan membawa tas dari daun yang berisi permen-permen. Permen ini nantinya akan dibagi pada setiap orang yang ku temui di jalan dan di rumah mereka masing-masing sambil mengenalkan diri pada mereka. Adat ini disebut juga Takko Dalan.

Setelah tradisi di sukuku saja sudah membuatku tercengang, aku menemukan sebuah tradisi baru yang unik dan cukup membuatku terkesan, bahkan tidak bisa melupakannya. Ah, aku sampai lupa. Seminggu berada di tanah kelahiran suami, aku masih menyempatkan diri untuk berjalan-jalan melihat pemandangan yang cukup indah di sana. Kali ini kami jalan-jalannya naik sepeda motor, dong, biar bisa mesra-mesraan. Hehe.

Bukit Tunggal Birong, sebuah bukit tunggal yang terletak di daerah Dolok Suanon, simpang Mandala Sena. Jadi, rumah keluarga suamiku lebih tepatnya di lembah Dolok Suanon ini. Bukit ini disebut Birong (hitam) karena semua sisinya habis terbakar (disengaja atau tidak, aku kurang tahu juga). Di dekat bukit ini ada sebuah daerah wisata yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat dan masyarakat sekitar. Tempat wisata ini akan dibuka setiap hari besar dan hari libur saja. Ada kolam renang yang airnya langsung dari aliran bukit, musala, kamar mandi umum, penginapan, kafe, dan sebuah panggung terbuka untuk acara-acara tertentu.

Foto by me : Puncak Tunggal Birong

Nah, kebetulan suamiku, adik perempuannya, dan adik laki-lakinya, adalah alumni dari Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid yang terkenal dengan sainsnya. Aku juga sempat berwisata ke dalam pesantren ini. Sangat mengagumkan. Pesantren ini dibangun di atas perbukitan yang luas yang memiliki fasilitas lengkap. Di dalam pesantren ini, terdapat juga sebuah mesjid yang menjadi sejarah peninggalan kepemimpinan Bapak Soeharto. Menurutku, sih, santri dan santriwati yang belajar di sini pasti sangat bahagia karena suasana dan keindahan alamnya sangat mendukung.

Foto by me : Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid

Lingkungan Pesantren
Lingkungan Pesantren

Selanjutnya, kecamatan Sipagimbar. Di daerah ini sudah lebih maju daripada desa tempat tinggal suami. Di sini sudah ada poken atau pekan seminggu sekali setiap hari Sabtu, ada terminal bus dari Medan, Padang Sidempuan, dan Sipirok, ada SMP Negeri, MA Negeri, dan SMA Negeri, dan ada sebuah kafe yang tampat estetik di antara pohon-pohon pinus yang terdapat di atas puncak Sipagimbar.

Foto by me : Lopotta, Kafe di Puncak Sipagimbar

Setelah tujuh tahun menikah dan pulang ke kampung ini setiap tahun, membuatku semakin mencintai suasananya yang dingin, sejuk, dan nyaman. Kadang-kadang hidup juga perlu istirahat dari kepenatan dan kejenuhan kota yang sekarang banyak menawarkan kenikmatan sesaat. Maka, kampung halaman adalah salah satu tempat yang tepat untuk mengistirahatkan semua kepenatan itu, apalagi dengan segala jenis wisata yang tak boleh dilewatkan sedikit pun.

Setiap tempat memiliki ciri khasnya sendiri. Tinggal kita saja yang berusaha menikmatinya seindah mungkin. Awalnya aku benar-benar merasa asing dengan keanekaragaman adat istiadat, kuliner, dan budaya yang ada di desa ini, tetapi seiring berjalannya waktu, aku mencintainya seperti aku mencintai suamiku, eeaakk. Ini masih secuil dari keindahan Indonesia yang sudah ku rasa dan ku lihat. Perjalanan masih panjang untuk merasakan bahagian lainnya.

Um, ku kira sudah cukup, ya, jalan-jalan ke kampung halaman kami di Desa Sidapdap, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, melalui tulisanku yang sedikit acak-kadut ini. Semoga kalian dapat menikmati dan merasakan hawa dingin juga kuliner enaknya, walaupun masih membayangkannya saja.


Saranghaeyo, Chingu

Next Post Previous Post
2 Comments
  • Ririn Wandes
    Ririn Wandes 23 Oktober 2023 pukul 10.44

    Seru banget sih bisa sambil mengenal adat istiadat juga. Baca ini jadi makin memahami tentang culture di sebuah tempat. Habis menikah pun jadi makin dekat dengan keluarganya ya,sis.

    • Nina Nola Boang Manalu
      Nina Nola Boang Manalu 24 Oktober 2023 pukul 14.38

      Iya, Kak. Greget jadinya tiap hari nungguin, besok apa lagi, ya, besok gimana lagi, ya? Kalau dipikir² daerah ini masih di dalam Sumut, kan, Kak, tapi udah seunik itu tradisinya. Alhamdulillah masih tetap baik² saja kekeluargaannya, Kak.

Add Comment
comment url