Mengubah Kejenuhan Menjadi Kebahagiaan untuk Diriku dan Orang Lain : IKIGAI

Annyeonghaseyo, Chingu

I'm back again. Um, cerita apa lagi, ya, yang akan ku bagi dengan kalian? Sebelumnya, kalian tidak bosan, kan, membaca cerita hidupku yang biasa-biasa saja? Semoga tidak, ya, Chingu? Kalau begitu, aku akan membagi sedikit pengalamanku yang bisa memberikan impact positif untuk kalian. Baca sampai habis, ya!

Kebosanan Ini Hampir Mematahkan Semangatku



Sebagai manusia, wajar, dong, kalau kita pernah mengalami kebosanan, tidak semangat menjalani kehidupan, kurang bergairah, malas, dan bingung. Apalagi, rutinitas yang dilakukan sehari-hari monoton, statis, dan tidak berwarna. Seperti halnya, seorang ibu rumah tangga dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, tidak berbeda, dan dilakukan berulang-ulang setiap hari. Lama-kelamaan keadaan ini pasti mengganggu mental si ibu juga, kan? Si ibu akan menjadi jenuh dan hal tersebut dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Makanya, di sini aku ingin membagi pengalamanku sebagai ibu rumah tangga yang sudah lama berhenti dari profesiku.

Sebelum memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, aku adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar di kota Medan selama kurang lebih delapan tahun. Aktivitasku mengajar di dalam kelas membuat hidupku berwarna dan berbeda setiap hari. Bertemu dengan anak-anak dan rekan kerja di sekolah, memiliki problema berbeda setiap harinya, merasakan suasana kerja yang dramatis, mengingat tanggal dalam sebulan, berbahagia setiap bertemu dengan tanggal merah, dan banyak lagi cerita suka dan duka saat masih bekerja dulu.

Namun, hal itu berbanding terbalik dengan kehidupanku yang sekarang. Aku hanya diam di rumah, mengurus rumah, suami, dan anak-anak. Bahkan, aku hampir saja hilang kewarasan dengan rutinitas yang tak ada bedanya setiap hari. Aku mulai jenuh. Emosiku tidak terkontrol. Aku sering marah tanpa alasan, melempar barang, dan mengunci diri di dalam kamar. Bukan drama, tetapi inilah kenyataannya. Kenyataan seorang ibu rumah tangga yang juga haus dengan dukungan, perubahan, dan alur hidup yang tidak monoton. 

Aku Menemukan Sebuah Buku Ajaib yang Mengubah Pemikiranku



Akhirnya, aku mencoba mencari tahu tentang jati diriku yang sebenarnya. Aku tidak ingin kondisi mentalku bertambah parah hanya karena jenuh yang terus-menerus melanda. Aku ingin hidupku lebih bermakna, bermanfaat, dan seimbang. Sebuah buku berjudul IKIGAI : Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang oleh Hector Garcia dan Francesc, mengubah pola pikir dan menunjukkan padaku bahwa alasanku bangun setiap pagi adalah untuk bahagia dan bersyukur. Buku ini mengatakan bahwa menurut WHO (World Health Organization), negara Jepang memiliki tingkat harapan hidup tertinggi dibandingkan dengan negara lain. Bahkan, banyak penduduk Jepang yang berusia 100 tahun atau lebih. Rahasianya adalah konsep hidup IKIGAI, sebuah konsep dari Jepang yang menawarkan kebahagiaan dan inilah alasan manusia untuk hidup.

IKIGAI secara harfiah adalah nilai kehidupan. Sementara itu, secara filosofis, Ikigai adalah prinsip yang membantu hidup kita lebih bermakna, bermanfaat, dan seimbang untuk mencapai kebahagiaan sejati. Konsep ini ditemukan oleh Akihiro Hasegawa, seorang Psikolog Klinis dan Profesor dari Toyo Eiwa University di tahun 2001. Ini adalah sebuah penelitian yang mana kebahagiaan diukur melalui cara kita memaknai hidup. Sebenarnya menemukan Ikigai dalam diri sendiri itu gampang-gampang sulit, sih, Chingu. Sebelumnya kalian harus menggali diri terlebih dahulu.

- Apakah kalian sudah melakukan hal yang kalian sukai

- Apakah kalian sudah melakukan hal yang kalian kuasai

- Apakah kalian sudah melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain, dan

- Apakah kalian sudah melakukan hal dengan bayaran yang sesuai



Kalau dipikir-pikir, jawaban dari keempat pertanyaan di atas sangat mudah, ya? Namun, sebenarnya untuk menemukan hal-hal yang disukai dan dikuasai dalam diri sendiri itu sangat sulit. Nah, agar kalian lebih memahami konsep Ikigai tersebut, maka keempat elemen yang ada dalam konsep ini membentuk sebuah diagram venn yang saling berhubungan.

Elemen-elemen yang Saling Berhubungan dalam Konsep IKIGAI



1. Passion

What do you love doing? Semua manusia pasti memiliki hobi atau kesenangan pribadi. Sesuatu yang di saat melakukannya, maka akan mendorong gairah, semangat, tanpa rasa letih, dan tanpa imbalan sedikit pun karena sesuatu itu dapat me-recharge mental kita. Misalnya, aku memiliki hobi menulis. Karena aku menyukai cerita romantis dengan imajinasi yang tinggi, aku memilih untuk menulis fiksi, seperti cerita pendek dan novel. Maka menulis fiksi adalah passion-ku.

2. Mission

What does the world need? Jika passion hanya melihat sesuatu dalam diri kita, selanjutnya kita juga perlu melihat mission, sesuatu yang orang lain/dunia inginkan di luar diri kita. Bagaimana cara menggabungkannya dengan passion? Saat orang lain membaca karyaku, mereka memberi saran agar aku mengembangkan tulisanku dengan genre yang berbeda. Aku mulai tertarik, walaupun pada awalnya sulit karena memang passion-ku di genre romantis. 

3. Vocation

What can you be paid for? Aku mencoba membuktikannya dengan menulis cerita pendek anak yang berhubungan dengan kearifan lokal. Kupikir, tidak ada salahnya mencoba dan ternyata aku berhasil. Di tahun 2019, aku memenangkan lomba menulis cerita anak dengan kearifan lokal dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional. Aku menjadi juara ketiga se-kecamatan kota Medan. Mengerjakan sesuatu yang sangat disukai dan dibayar, it sound like a vacation all your life, right? 

4. Profession

What are you good at? Berangkat dari passion-ku yaitu menulis, aku bisa mengikuti kelas menulis, pelatihan menulis, atau seminar yang menghadirkan para penulis profesional. Sampai aku memiliki kemampuan secara profesional sebagai penulis cerita, sehingga tulisan-tulisanku lebih berkualitas dan siap bersaing. Dengan begitu, aku dapat mengembangkan potensi menulisku jauh lebih baik dari sebelumnya dan memperoleh penghasilan karena telah belajar secara formal dan memiliki keahlian.

Kebiasaan Hidup yang Lebih Bermakna dan Seimbang



Melalui konsep ini, perlahan-lahan aku mengubah kebiasaan hidup yang awalnya merasa "ini-ini aja, nggak ada istimewanya, dan biarlah mengalir" menjadi lebih bermakna dan seimbang. Berawal dari suka membaca, lalu terjun ke dunia kepenulisan. Saat itu aku hanya menulis sesuai dengan keinginanku. Aku suka fiksi romantis, fiksi remaja, dan menulis surat-surat cinta untuk ibuku. Lama-kelamaan, aku mulai mengikuti lomba menulis, walaupun saat itu belum rezeki menjadi pemenang.

Namun, aku selalu mencobanya terus-menerus. Sampai akhirnya, aku memiliki prestasi yang patut ku banggakan. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2003 tekun menulis, aku terpilih menjadi 10 Penulis Naskah Terbaik Cerita Anak Dwibahasa 2022 oleh Balai Bahasa Sumatera Utara yang hadiahnya lumayan besar bagiku. Semakin hari aku semakin keracunan untuk menulis dan mulai mengikuti kelas menulis, pelatihan menulis, dan webinar menulis bersama para penulis tanah air yang profesional.

Bahkan, novel-novelku juga mulai memenuhi platform menulis seperti Noveltoon, NovelMe, Kwikku, Wattpad, dan Fizzo. Bagiku, menulis adalah salah satu cara mengkondisikan pikiran dan tubuhku dari kebimbangan dan tekanan-tekanan sebagai makhluk Tuhan yang menjalani kehidupan dunia. 





Bagaimana dengan kalian, Chingu? Sudah bertemu dengan passion kaliankah? Kurasa, sampai di sini dulu ceritaku hari ini. Semoga esok kita bertemu kembali dalam bincang-bincang yang lebih menarik lagi.


Khamsahabnida, Chingu ~


Next Post Previous Post
2 Comments
  • Anonim
    Anonim 13 Mei 2024 pukul 23.29

    terima kasih bun.... good job atas tulisannya.... karena sangat menginspirasi buat saya pribadi untuk dapat mengikuti prinsip ikigai yang memang luar biasa

    • Nina Nola Boang Manalu
      Nina Nola Boang Manalu 19 Mei 2024 pukul 02.49

      Sama², Bunda. Ganbatte ^_^

Add Comment
comment url