ENERGI POSITIF SEORANG IBU MERTUA: TERNYATA BANYAK YANG SALAH DALAM KEHIDUPANKU TERDAHULU

 Annaenyonghaseyo, Chingu

Sudah hampir sebulan, nih, aku tak menyapa kalian lewat tulisanku. Nah, hari ini aku ingin berbagi cerita tentang wanita yang menjadi sumber inspirasiku dalam menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan seorang ibu. Dialah ibu mertuaku (disebut Namboru dalam suku Batak). Yuk, baca sampai habis, ya!

Resepsi pernikahanku, 2016

Menjadi inspirasi orang lain itu bukan sebuah kesengajaan. Bahkan, sang inspirator juga tidak pernah menyangka, kalau dirinya dijadikan inspirasi oleh orang lain. Begitu pula dengan seorang wanita yang belum lama ini ku kenal dan menjadi bagian dari kehidupan beliau Mungkin ini terdengar agak berbeda dari yang lainnya. Namun, aku benar-benar menemukan wanita yang menginspirasi kehidupanku di masa yang akan datang sebagai seorang ibu.

Beliau seorang anak tunggal dari ibu yang berstatus janda di masa mudanya (cerai mati). Kehidupan beliau di masa kecil sangat pahit kala itu. Setelah ayahnya meninggal, tidak ada satupun keluarga dari pihak ayah yang mengingat dan membantu kehidupan beliau bersama sang ibu. Untungnya ayah beliau seorang polisi dan meninggalkan pensiunan janda untuk sang ibu, sehingga mereka berdua dapat bertahan hidup. Beliau tidak memiliki kakak, adik, atau abang. Beliau hanya sendiri mengarungi kehidupan bersama sang ibu setelah ayahnya meninggal. Namun, beliau tidak lupa untuk selalu bersyukur atas nikmat sekecil apapun yang Allah SWT berikan.

Bogor, 2019

Keadaan beliau sejak kecil membuat beliau menjadi seorang wanita hebat di masa sekarang. Beliau memiliki tiga orang anak, dua putra dan satu putri. Salah satunya adalah suamiku, si sulung dari tiga bersaudara. Beliau menjadi pegawai negeri sipil (Guru Sejarah di SMP) lebih dulu daripada mertua laki-laki. Sehingga, mereka berdua harus berpisah tempat tinggal setelah suamiku lahir. Beliau selalu mengingatkanku bahwa sedekat apapun kita dengan suami, jika Allah SWT menginginkan pernikahan kita diuji, maka akan diuji. Namun, beliau percaya dan selalu berdoa pada Allah agar pernikahan mereka dijauhkan dari segala ujian saat itu. Doa itu masih terkabul sampai hari ini, malah pernikahan ibu mertua dan ayah mertuaku semakin awet dan langgeng. Salah satu poin penting yang ku ambil dan akan ku pegang sampai di kehidupan nanti bahwa suamiku bukan milikku, tetapi milik Allah SWT. Maka dari itu, mintalah pada Yang Mahakuasa untuk segala ketenangan dalam pernikahan.

Tak sampai di situ saja, setelah akhirnya menyatu kembali dalam satu rumah, beliau juga dengan sangat ikhlas dan tulus merawat sang ibu yang semakin tua dan sakit-sakitan. Ketika aku menjadi menantu di rumah tersebut, tahun 2016, aku melihat sendiri bagaimana beliau merawat nenek (ibunya mertua perempuanku) dengan sangat perhatian. Mulai dari menyuapi nenek makan, membersihkan tubuhnya, menyisir rambutnya, dan memandikannya yang saat itu hanya bisa berbaring di ranjang, senyuman ibu mertuaku selalu mengembang. Aku dapat merasakan ketulusan beliau merawat nenek, seperti nenek merawat beliau di masa kecilnya. Ini juga memberi pandangan untukku sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Aku ingin mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh ibu mertua terhadap orang tuanya.

Opung, Nenek, dan Naziya Tampubolon di Siantar Zoo, 2018

Putri pertama kami lahir. Banyak kebahagiaan tercurah untuknya karena dia adalah cucu pertama di dalam keluarga suami dan juga di dalam keluargaku. Perhatian dan ketulusan kedua mertua juga kedua orang tuaku tak bisa lagi ku ungkapkan. Saat itu ibu mertuaku masih bekerja, sementara ibu kandungku sudah pensiun. Dengan sangat khawatir, beliau menghubungi ibuku untuk meminta maaf karena belum bisa mengambil cuti dari sekolah, sehingga beliau meminta ibuku merawat dan menjagaku pasca melahirkan terlebih dulu untuk beberapa waktu ke depan. Begitulah etika ibu mertuaku yang sangat sopan dan tidak ingin menyakiti siapapun, terutama besannya. Sampai pada hari yang ditentukan, beliau dan mertua laki-laki datang untuk menjagaku dan putri kami bergantian dengan orang tuaku. Rasa syukur yang teramat dalam aku rasakan kala itu karena sesibuk apapun kedua mertuaku, mereka tetap menyempatkan waktu, bahkan mengambil cuti hanya untuk menjagaku pasca melahirkan.

Beliau juga sangat pengertian dengan keadaan pernikahan anak-anaknya, tetapi tidak terkesan mencampuri kehidupan rumah tangga kami. Sudah dua tahun ini suamiku mengambil perkuliahan Doktoral (S3) di Universitas Negeri Medan dengan biaya sendiri. Tanpa pikir panjang, ibu mertua memberikan kelapangan kepada suami dengan membantu membiayai perkuliahannya selama dua semester (setahun). Ini sangat membantu perekonomian rumah tangga kami, mengingat uang kuliahnya yang sangat besar, mencapai tiga puluh lima juta setahun. Ditambah lagi, beliau juga sering memberikanku hadiah, seperti perhiasan emas dan baju-baju bagus. Kadang-kadang aku berpikir, ibu kandung sendiripun jarang melakukan hal ini padaku. Namun, bukan berarti aku ingin membandingkan kasih sayang mereka berdua. Mungkin inilah rezeki luar biasa yang harus aku syukuri. Aku mendapat ibu mertua, ayah mertua, dan adik-adik ipar yang kasih sayangnya tak berbanding jauh dari keluargaku sendiri.

Acara Wisuda Pascasarjana Uda Arif Tampubolon, 2017

Selama enam tahun menjadi menantu beliau, aku sangat memuji kebaikan dan sifat ibu mertua yang benar-benar tulus dalam melakukan banyak hal. Setiap lebaran beliau dan mertua laki-laki tidak pernah lupa singgah di rumah orang tuaku, walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh, sekitar tujuh sampai delapan jam. Ini membuatku semakin terkesan dengan etika ibu mertua. Aku berpikir kembali, bisakah aku menjadi seperti beliau di masa yang akan datang untuk anak-anak dan keluarga kecil kami? Aku  sangat ingin seperti beliau, memandang semua aspek dalam konteks positif tanpa peduli apakah itu akan mendatangkan keburukan atau tidak, bersikap tulus terhadap siapapun tanpa memandang siapa orangnya, memberikan semua yang dimilikinya selagi beliau mampu untuk anak-anaknya tanpa membandingkan anak pertama, kedua, dan ketiga, menjadi teman bercerita yang paling asyik di keluarga, dan selalu khawatir pada semua anak-anak dan cucu-cucunya di masa yang akan datang, jika beliau sudah dipanggil oleh Allah SWT.

Aku bersaksi bahwa ibu mertuaku adalah wanita baik hati, lembut hati, hebat dan kuat, yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat sepertinya, bahkan mampu menjadi sahabat untuk para menantunya. Kedua putra beliau sudah mencapai jenjang pendidikan sampai Strata 2 (S2), bahkan suamiku sedang menjalani pendidikan Strata 3 (S3) saat ini. Satu putri beliau mencapai jenjang pendidikan sampai Strata 1 (S1), begitupun dengan ketiga menantu beliau, termasuk aku. Inilah hasil kehidupan yang ibu mertuaku dapatkan setelah melalui kehidupan yang pahit di masa lalunya.

Ibu mertuaku adalah wanita yang sifat dan sikapnya menjadi inspirasiku sejak menjadi menantu beliau. Sosoknya tak pernah luput dari doa-doaku selama ini. Aku hanya seorang menantu, tetapi mendapat perlakuan dan kasih sayang bak anak kandung. Wajar saja, jika beliau memberikan energi positif terhadapku dan keluarga kecil kami. Semoga beliau selalu sehat dan panjang umur agar aku dapat membahagiakan beliau dengan caraku sendiri. Terima kasih banyak, Namboruku (ibu mertua).

Ah, selesai juga aku mencurahkan isi hati terdalamku untuk wanita yang begitu bersahaja. Aku tidak muluk-muluk, aku sangat bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari keluarga beliau. Semoga kita semua juga mendapat kebahagiaan dan nikmat yang luar biasa, ya Chingu. 

Hwaiting ~

Next Post Previous Post
8 Comments
  • IYAH
    IYAH 30 Mei 2024 pukul 19.56

    Ya Allah, semoga semakin banyak mertua yang sayang dan baik kepada menantunya. Karena setelah menikah menantu itu menjadi bagian dari anak kandungnya juga. Salam sayang buat mertuanya kak, semoga sehat selauuu

    • Nina Nola Boang Manalu
      Nina Nola Boang Manalu 2 Juni 2024 pukul 19.43

      Aamiin ya Rabbalalamin. Terima kasih banyak doanya, Kak Yah. Semoga Kak Yah juga mendapat rezeki yang luar biasa dalam pernikahan nanti.

  • Anonim
    Anonim 1 Juni 2024 pukul 23.01

    Wah 😍😍 bagus tulisannya kk. Beruntung sekali kita dpat mertua yg baik yg udh anggap kota sperti anaknya sndiri 🥰🥰

    • Nina Nola Boang Manalu
      Nina Nola Boang Manalu 2 Juni 2024 pukul 19.43

      Aamiin ya Allah. Iya, Deg. Semoga kita semua sampai ke anak cucu nanti pun seperti itu, Deg.

  • Pertiwi Soraya
    Pertiwi Soraya 2 Juni 2024 pukul 16.08

    Semoga beliau sehat-sehat dan bahagia selalu.

    Punya mertua yang baik itu berkah luar biasa ya kan Kak. Di luar sana berapa banyak coba yang mertuanya adalah ujian hidupnya🙂

    • Nina Nola Boang Manalu
      Nina Nola Boang Manalu 2 Juni 2024 pukul 19.47

      Aamiin ya Allah. Terima kasih doanya, Kak.

      Sebenarnya semuanya juga berpulang kembali pada kita, kan, Kak, sebagai menantu. Walaupun begitu, karakter manusia memang beda².

  • Dewi chairani
    Dewi chairani 2 Juni 2024 pukul 20.28

    mertua idaman betul ini kak, semoga rukun sejahtera selalu, sehat2 kedua ibu juga Kak Nina sekeluarga ya. Senang kali bisa membaca kisah inspiratif seperti ini. 😊

    • Nina Nola Boang Manalu
      Nina Nola Boang Manalu 30 Juni 2024 pukul 23.11

      Aamiin ya Rabbalalamin. Terima kasih banyak supportnya, Kak Dew. Kakak juga sehat² sekeluarga, ya.

Add Comment
comment url