Batita Itu Menggugah Hatiku: FELIA

Annaenyonghaseyo, Chingu.

Bertemu lagi denganku, Umak Trio Tampu, dalam cerita yang selalu berbeda-beda di setiap bulannya. Um, ceritaku kali ini sedikit menyayat hati karena memang aku sendiri pun mengalaminya. Sudah siap, kan, membaca ceritaku? Semoga kalian tidak bosan, ya, singgah di dunia diaryku! Aamiin.

Namanya FELIA

                     Felia kecil bersama ibunya

Ini adalah kisah seorang ibu yang tak pernah lelah memberikan kasih sayang dan pengorbanan yang luar biasa untuk putri tercintanya. Felia, seorang batita berusia ± 2 tahun (saat itu) yang berkebutuhan khusus. Dia adalah salah satu batita yang memerlukan uluran tangan para donatur maupun orang-orang yang peduli dengan permasalahan seperti ini. Batita ini tidak pernah ingin terlahir seperti ini, menderita pneumonia dan bocor jantung, tetapi kembali lagi pada ketetapan Allah. Allah tahu kemampuan hambanya dan aku yakin orang tua Felia adalah hamba yang terpilih diantara banyak orang tua lainnya. Dia mengalami bocor jantung sehingga harus rutin kontrol ke rumah sakit. Pengobatan yang begitu mahal untuk pekerjaan sehari-hari orang tuanya, rasanya tak mungkin terlalui. Namun, Alhamdulillah sampai detik ini tak pernah sedikit pun Felia mengalami kesulitan dalam hal pengobatan maupun kebutuhannya sehari-hari. Allah selalu membantunya melalui tangan-tangan para dermawan.

Ibunya harus bekerja di rumah karena tak mungkin meninggalkan Felia kecil bersama kedua kakaknya yang juga masih balita. Beliau berjualan sempol ayam, sapi, dan dimsum, melalui media sosial. Sementara itu, sang Ayah adalah pedagang sempol keliling yang pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah sementara ke Jakarta dari Bali karena jarak ke rumah sakit yang jauh. Tanpa pegangan, tanpa tujuan, dan yang ada hanyalah harapan. Mereka benar-benar berharap Felia dapat sembuh dan hidup dengan normal seperti balita lainnya.

Sampai detik ini, saat aku menulis cerita ini, air mataku masih saja menetes mengingat kenanganku bersama Felia beberapa tahun yang lalu, tepatnya sejak tahun 2018 sampai 2021. Apalagi, aku juga baru melahirkan anak pertamaku dan seumuran dengan Felia saat itu. Semakin aku menatap putriku, semakin aku merasa haru melihat Felia. Perasaanku berkecamuk. Aku sering ikut menangis tatkala sang ibu mengirimkan video Felia yang sedang kambuh padaku. Aku dapat merasakan kesedihan yang sangat dalam yang dirasakan oleh ibunya. Aku mengenal Felia dan ibunya melalui Instagram Uncle Teebob (Tubagus Zainal Arifin), seorang founder  Sahabat Uncle Teebob, Team LDP Kemensos RI, dan Team LDP Tagana DKI, yang sangat peduli dengan masalah-masalah sosial di negeri ini, khususnya bayi dan anak-anak.

Ceritaku dengan FELIA

Sebelum aku bercerita lebih dalam lagi, kehidupan ekonomiku dan suami juga bukanlah dari kalangan orang-orang dengan status sosial yang tinggi. Aku hanyalah seorang guru les pribadi, pedagang online shop, dan ibu rumah tangga. Sementara itu, suamiku adalah seorang Dosen honorer di sebuah perguruan tinggi swasta. Hatiku tergerak untuk membantu Felia saat itu. Niatku semakin bulat untuk memberikan sebahagian penghasilanku padanya. Dikarenakan jarak kami yang jauh, aku hanya bisa mengirimi Felia uang setiap bulannya. Bahkan, ada juga temanku yang ikut membantunya. Sampai akhirnya, aku menyatakan diri sebagai orang tua asuh Felia. Tangisan ibunya terasa sampai ke ulu hatiku saat kami melakukan panggilan video. Namun, bukan aku saja yang berempati terhadap keluarga ini. Masih banyak lagi dermawan dari berbagai daerah yang tergerak hatinya untuk membantu batita manis ini. Aku juga pernah menggalang dana untuk Felia melalui program kitabisa.com. Tidak sia-sia, penggalangan dana itu cukup membantu kebutuhannya sehari-hari.

Menjadi orang tua asuh Felia selama dua setengah tahun membuatku hatiku tenang dan lega. Bahkan, ujian hidup yang aku alami juga terasa enteng dan tidak membuatku putus asa. Dengan izin Allah, kami sekeluarga juga tak pernah merasakan kesempitan maupun kesusahan. Dukungan yang kuat juga datang dari suamiku. Beliau selalu mengingatkanku untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan.

Pernah aku mengatakan hal ini pada suamiku. Seandainya aku menjadi orang kaya, aku akan membantu mereka yang betul-betul kesulitan, khususnya balita-balita yang memerlukan pengobatan. Suamiku menjawabnya, itu adalah impian yang luar biasa dan setiap orang mendambakannya. Namun, seandainya mimpi itu terjadi, belum tentu aku akan bersedekah seperti yang ku lakukan saat ini. Karena Allah Maha Membolak-balikkan Hati. Aku diam. Ada benarnya juga jawaban beliau. Mungkin rezeki kami sebatas ini, tetapi kami tak lupa untuk selalu membaginya karena menurut kami pada harta yang kami dapat, ada hak mereka (fakir miskin) di dalamnya. Insyaallah, dengan bersedekah bukan hanya rezeki mengalir, tetapi ketentraman dan ketenangan hati juga tercapai.

FELIA Berhasil Melewati Ujiannya

Sejak akhir tahun 2021, aku mulai hilang komunikasi dengan ibu Felia. Aku mencoba menghubunginya, tetapi tidak tersambung. Kupikir beliau sudah melupakanku karena terakhir kalinya aku berkomunikasi dengannya di pertengahan tahun 2021. Namun, ternyata dugaanku salah. Di tahun 2023, ibunya menghubungiku melalui pesan langsung di Instagram. Beliau juga mengatakan kehilangan kontakku dan media sosialku saat itu. Setelah dinyatakan sembuh oleh dokter, Felia dan keluarganya memutuskan untuk kembali pulang ke Bali, rumah mereka yang sebenarnya. Untuk menambah biaya kepulangan mereka, ibu Felia terpaksa menjual seluruh harta benda yang ada di Jakarta, termasuk telepon genggamnya. Sejak itulah, kami saling kehilangan. Sampai akhirnya, beliau kembali mencari sosial mediaku melalui Instagram Peduli Sehat yang menjadi wadah kami bersama meninggalkan komentar di setiap berita yang diunggah oleh Instagram tersebut. Beliau mengirimiku foto-foto dan video Felia yang sudah sehat dan tumbuh dengan baik seperti anak lainnya. Walaupun, kadang-kadang jantungnya kambuh dan membuat keluarganya kembali khawatir.


Felia sudah berumur 6 tahun sekarang, sama dengan putri pertamaku. Dia terlihat manis sekali.

Ah, tak pernah ku sangka, kalau aku akan bertemu Felia dan menganggapnya sebagai anakku juga. Aku juga tak pernah menyangka Felia dan keluarganya menjadi cerita dalam kehidupanku. Namun, rasa bahagiaku lebih besar daripada sekadar rasa tak sangka. Allah masih memberiku kesempatan untuk menjadi orang baik. Oh, ya, kalian punya cerita yang sama juga, tidak, Chingu? Kalau, ya, ayo berbagi kisah!

Hwaiting ~

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url