Pasca Melahirkan Anak Ketiga di Usia 35 Tahun: Emosiku Merajai
Annaenyonghaseyo, Chingu.
Sudah akhir bulan Juli, nih. Setengah tahun 2024 telah berlalu dan sebentar lagi akan menuju tahun 2025. Ah, tak terasa, ya, Chingu. Sehat-sehat kalian semua, ya, agar ceritaku tak berhenti sampai di sini. Um, sekarang aku mau cerita tentang kegelisahanku pasca melahirkan anak ketiga melalui operasi sesar. Baca sampai habis, ya!
![]() |
Trio Tampubolon |
Apakah Ini Salah Satu Sindrom Baby Blues?
Aku memang terlahir dari seorang bapak yang keras dan otoriter, tetapi kelembutan ku dapatkan dari seorang ibu yang penyabar dan lebih suka mengalah. Dibandingkan dengan suami, sifatku yang keras tak bisa terkalahkan, walaupun kita sama-sama anak pertama dalam keluarga. Bahkan, emosiku semakin merajalela setelah kelahiran anak ketiga kami.
Apakah aku terkena sindrom baby blues? Entahlah. Namun, selama 41 hari ini emosiku selalu meledak-ledak, suka teriak pada anak-anakku yang lain, dan pernah mengabaikan mereka bertiga di dalam kamar yang sengaja ku kunci. Sementara itu, aku menyendiri dan menangis sekencang-kencangnya di kamar lain. Aku tidak ingin melukai perasaan anak-anakku, tetapi rasanya aku tidak sanggup melihat kekacauan dan keributan yang mereka lakukan.
Aku tak punya waktu untuk mandi, makan, bahkan minum sekalipun. Bukan hanya si bayi yang sudah merenggut waktuku, tetapi kedua anakku yang lain seperti tidak mengizinkanku untuk menikmati secangkir kopi atau sekeping biskuit pun. Aku lelah menghadapi situasi ini.
Aku ingin seperti suamiku. Bisa pergi keluar dengan alasan bekerja, bertemu teman-temannya, minum kopi di warung atau di kafe, dan mengobrol sampai berjam-jam tanpa takut terganggu dengan tangisan bayi dan kebisingan rumah. Aku? Bagaimana denganku? Aku harus berjibaku dengan banyaknya pekerjaan rumah, mulai mengurus si bayi, mengurus keperluan si kakak yang sudah masuk sekolah, dan mendampingi si abang yang hyperactive agar tidak merusak barang-barang di sekitarnya. Walaupun, ada ibuku yang membantu, tetapi aku tak serta-merta menyerahkan seluruh pekerjaanku padanya. Beliau hanya sekadar memasak dan bergantian denganku menjaga si bayi. Namun, aku masih kewalahan dengan semuanya. Tak bisa dihitung berapa kali aku mengunci diri di kamar, menangis sembari teriak dengan kencang, dan memukuli kepalaku yang hampir mau pecah. Belum lagi, bekas luka sesar yang kadang-kadang nyeri masih menghantamku. Aku hampir gila.
Sudah sering pula aku mengadu pada suami tentang keadaanku yang sedang tidak baik ini. Dia tidak hanya memberiku kata-kata motivasi, tetapi juga membantuku menjaga anak-anak saat sedang libur bekerja. Namun, itupun belum cukup dan membuatku puas. Malah, akhir-akhir ini aku sering melampiaskan amarahku pada anak pertama kami. Entah dia bersalah atau tidak, dia akan tetap menerima omelanku. Bukannya tidak menyesal, bahkan aku meminta maaf padanya sembari memeluk dan mencium tangan dan kakinya. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Di kelahiran pertama dan kedua, aku hanya tertekan saat ASIku mulai seret. Kali ini, semua perasaanku bercampur aduk. Aku tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bukan tak pernah aku berusaha menahan emosi, mencoba sabar, dan tersenyum pada ketiga anakku saat kekacauan mulai terjadi. Namun, itu semua hanya sebentar. Amarahku kembali mencapai ubun-ubun sampai aku sering berteriak agar mereka diam dan mendengarkanku.
Aku tidak ingin menjadi seorang ibu yang pemarah, temperamental, dan melukai perasaan anak-anakku dengan kekerasan secara verbal. Aku ingin menjadi ibu yang tenang setiap menghadapi mereka saat ini karena aku percaya bahwa semua kekacauan yang mereka lakukan akan berhenti dengan sendiri setelah mereka beranjak besar. Mungkin aku pun akan merindukan saat-saat itu juga.
Apakah ini sebuah kewajaran bagi seorang ibu pasca melahirkan? Atau memang kesehatan mentalku sedang terganggu?
Hwaiting ~
Semangat umak...
Semuanya pasti berlalu
Peluk dari jauh :)
Jaga kesehatan yaa, anak2 masih butuh ibu
Aamiin ya Allah.
Terima kasih untuk doa dan semangatnya, Akak. Akak juga, ya.
Semangat Mom Blogger! di luar sana banyak yang pengen ada di posisi seperti mom nih, dikaruniai 3 orang anak yang mungkin saat ini sedang ucul ucul nya.
Siap, Bang. Harus semangat!
Nina sebaiknya konsultasi dengan psikolog. akan membantumu menemukan apa penyebab kemarahanmu. Jangan dibiarkan, nanti Nina bisa kena sakit fisik (psikosomatis), kemudian suami dan anak-anak jadi korban. Kalau butuh referensi psikolog, bisa japri ya.
Inilah yang ditakutkan, Kak. Bertemu dengan psikolog itu rasanya seperti jiwa ini benar² sudah tidak baik² saja.
Umak.. semangat yaa, kalau butuh bantuan atau relasi psikolog, ayok kita cari. Ga papa kok sharing soal ini ke orang lain, yang penting beban pikiran kakak bisa sedikit lebih ringan. Tetap semangat ya kak nina.
Terima kasih, Kak, supportnya. Harus semangat terus, Kak. Soalnya anak² juga masih kecil, masih mau lihat mereka sukses nanti. Aamiin ya Rabb.
Subhanallah. Semoga selalu dikuatkan jiwa, raga, iman dan para support system nya Kak Nina. Sealiran aku sama saran Kak Dana dan Kak Imelda. Semangat, Kak Nina. Semoga dimudahkan segala urusannya, dilapangkan hatinya, serta damai batinnya. Aamiin
Aamiin ya Allah. Terima kasih, Kak, support dan doanya.
Baby blues normal kak, tapi mungkin perlu dicarikan solusinya. Gk bisa komen banyak, semoga segera diberikan kemudahan kak 🙏
Iya, sih, Bang. Hanya saja kali ini kelewat aneh rasa awa. Hehe.
Kakak, semoga perasaan-perasaan yang kurang membuat nyaman segera berlalu, yaaa. Sehat dan bahagia selalu.
Aamiin. Mauliate Akak untuk supportnya.
Peluk jauh kak, ngerti banget gmna rasanya, meski anak baru satu tp paham la, krna saya disini jg ngerjain apa2 sendiri. Klo mmg lg emosi, tenang kn diri aja kak, bisa istighfar, minum sesuatu yg menenangkan sendiri d kamar, setiap orang ada caranya sndiri. Semoga dikuatkan ya kak, peluk erat :)
Nah, itulah, Kak, yang bisa saya lakukan. Kalau sudah kadung tantrum, saya kunci diri di kamar. Nangis sambil mohon ampun sama Allah karena sudah berbuat tidak baik pada anak².
Kak, semangat ya untuk terus jadi ibu versi terbaik...
Semoga kakak dan keluarga diberikan kesabaran
Thank you, Bang, untuk supportnya.
Bahkan udah anak ketiga pun ternyata keresahan itu tetap muncul ya mak. Semoga mamak banyak duit
Betul, Kyo. Kirain yang kena baby blues itu perdana menjadi seorang ibu, ternyata sudah melahirkan dua kali pun masih juga merasakannya.
Kak ee saran awak klo berat kali mending ke Psikolog kak, biar segera dapat pertolongan. Semoga Allah kuat kan kk yaaa
Aamiin ya Rabb. Siap, Kak. Terima kasih supportnya, Kak.
Kakak peluk dari jauh. Semangat ya kak. Aku tahu itu bagaimana rasanya dan perasaan kita. Karena aku saat stelah melahirkan anak pertama juga begitu. Penuh dengan cobaan. Semoga semua bisa teratasi dan tetap luangkan waktu untuk me time kak meskipun itu saat malam hari entah itu nonton film dari hp, atau minum teh atau apapun yang setidaknya waktu kita melepaskan kecapekan satu hari menghadapi urusan rumah tangga. Semangat ya kak
Peluk dari jauh juga, Kak. Ah, rasanya memang nano², ya, Kak. Sebelumnya, nggak pernah seperti ini. Jadi, benar² nggak terbayang, beban melahirkam kali ini berat sekali. Saat ini sedang coba² me time juga, Kak.
Semangat kak. Mungkin saya belum bisa merasakan di posisi kakak, karena belum jadi ibu. Tapi saya yakin kakak bisa melewatinya dengan baik. Semoga segera dimudahkan urusannya ya kak
Aamiin ya Rabb. Terima kasih supportnya, Kak. Setidaknya inilah gambaran seorang wanita yang akan menjadi seorang ibu kelak, Kak. Dulu pun, saat masih lajang, aku pikir menjadi ibu itu gampang. Sering baca² buku panduan, ikuti webinar² parenting, ikuti talkshow tentang pernikahan. Ternyata, setelah menghadapi sendiri, beginilah rasanya.
Semangat kak. Pasti bisa dilalui kakak:). Kalau amarah lagi muncak boleh tenangi diri kak. Jangan hadapi anak-anak, takutny jadi marah ke anak-anak
Terima kasih, Kak. Hal-hal seperti ini sangat ditakutkan untuk saat ini, Kak. Semoga ke depannya aku bisa lebih tenang lagi menghadapi mereka.
Kalau baca-baca artikel gini, aku sering bergumam dalam hati, "Hebat kali, ya, orang-orang, udah usia segitu masih melahirkan." Abis itu kepikiraan diri sendiri, nanti aku melahirkan di usia berapa, ya? Apakah emosiku akan stabil? Btw, semangat, ya, Kak.
Rasanya tentu tidak mudah ya, kak.. Kita masih bisa terlihat tertawa padahal baru saja - misalnya - emosi kita awur awuran. Ada baiknya mencari bantuan profesional seperti psikolog utnuk kebaikan diri sendiri dan tentu akan berdampak dengan keluarga juga. Semoga Allah kuatkan.. Peluuuk.
Btw kak, aku pingin tau kalo boleh, karena aku baru masuk usia 35, adakah persiapan dari sisi medis untuk mengandung di usia ini? Gapapa kalo ga dijawab. Up to you kakak~
Semoga hal-hal yang dirasa penat dan melelahkan cepat berlalu ya. Semangat terus kak.
Stress pasca melahirkan itu benar adanya. Bukan hal tabu dan bukan harus denial. Aku baru tahu saat habis kuretase anak kedua yang keguguran, disitu malah aku babybluesnya agak parah. Waktu lahiran anak pertama malah ga ada karena happy udah lama gak punya anak. Pas kehilangan anak kedua, mana anak pertama masih baby juga, aduh disitu baru deh parah bawaan nangis dan sentimental. Apalagi faktor makanan dan tontonan juga drama melow-melow.
Saranku jika dirasa masih bisa dibantu dengan support system yang baik, perasaan itu bakal pulih dengan kesadaran bahwa oh ini tidak benar dan aku pasti bisa memperbaikinya. Tapi jika dirasa sudah sadar, sudah diubah habitsnya dan tetap saja kembali ke pola yang sama, maka itu berarti butuh bantuan ahlinya (ke Psikolog), kalau tidak sempat ketemu langsung, sekarang banyak dokter yang bisa disamperin online kak. Semoga membantu dan lekas keluar dari lautan emosi yang menyesakkan itu ya, big hug.
semangat ya mak, insyaa Allah segala yang uda diusahakan berbuah pahala. lelah karena lillah insyaa Allah surga balasannya. semoga anak yang dibesarkan menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya. Aaamiiin.
Kak kamu kuat banget. Makasih udah berbagi cerita. Selamat atas kelahiran anak ketiganya kak. Semoga selalu diberkahi dan dipermudah segala urusan.
Peluk dari jauh untuk kakak. Aku yakin pasti rasanya berat ya kak, tapi kakak hebat udah bertahan sejauh ini. Tetap semangat ya kak, semoga kakak selalu mendapat dukungan yang terbaik dari orang-orang terdekat kakak - aamiin
Ternyata ga semudah itu menerapkan semua teori yang sudah dipelajari untuk pemjadi ibu ya kak :') Sehat-sehat kak zee, semoga anak-anak bisa selalu mengerti
Semangat, kak, pernah berada di posisi itu. Ajak adik atau siapa aja yg kakak kenal sesekali utk nginap dan ngobrol ke rumah kakak, insya Allah bisa meringankan beban yg sdg dirasakan.
Mungkin emosi-emosi ini muncul karena pertambahan tanggung jawab juga. Dimana sang ibu berusaha semaksimal mungkin memberikan kasih sayang penuh untuk ketiga buah hati ya. Semangat kakak.