SAYA BUKAN APA-APA: SANUSI PANE
Annaenyonghaseyo, Chingu
Kembali lagi bersamaku dan cerita-ceritaku tentunya. Sebenarnya banyak, sih, yang ingin ku sampaikan pada kalian tentang apa yang ada dalam pikiranku dan hatiku. Namun, ada baiknya satu-persatu dulu, ya. Hehe.
Nah, di akhir bulan ini aku ingin bercerita tentang seorang pemuda Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang hampir terlupakan. Bahkan, anak-anak di zaman ini tidak mengenal sosoknya dan merasa asing dengan namanya. Siapakah beliau? Langsung baca aja, yuk!
Saya Bukan Apa-apa
J.U. Nasution, seorang akademi yang berkontribusi pada penelitian di bidang pemrosesan bahasa alami dan kosa kata, pernah ingin menulis buku tentang Sanusi Pane, tetapi tidak pernah berhasil mewawancarainya, walaupun sudah berulang kali mencoba. Setelah J.U. Nasution bertemu dengan Sanusi, ia selalu mengatakan, “Saya bukan apa-apa. Saya bukan apa-apa.”
Sementara itu, istri Sanusi Pane juga mengungkapkan bahwa Presiden Soekarno pernah akan memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepada suaminya, tetapi ia menolaknya. “Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Namun, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apapun untuk apa-apa yang sudah aku kerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa,” ucap Sanusi Pane.
Siapakah Sanusi Pane
Sanusi Pane adalah pemuda Tapanuli Selatan yang lahir di Muarasipongi (Mandailing Natal) pada tanggal 14 November 1905. Ayahnya bernama Sutan Pangurabaan Pane, seorang guru rakyat dan juga seniman Batak Angkola di Mandailing Natal, sementara ibunya bernama Gonto boru Siregar. Ia memiliki dua orang adik, yaitu Amrijn Pane (1908) dan Lafran Pane (1922). Ia dan Amrijn Pane dikenal sebagai tokoh sastrawan angkatan Pujangga Baru di tahun 1930-an. Sementara itu, Lafran Pane adalah seorang aktivis mahasiswa yang juga sebagai pendiri HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan telah dianugrahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Sanusi mulai menempuh pendidikan formal di Holland Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan, Europeesche Lager School (ELS) di Tanjung Balai, dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Sibolga. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di Kweekschool di Jakarta dan Sekolah Tinggi Hakim. Setelah lulus, ia juga sempat mengunjungi India yang akhirnya memberi pengaruh besar terhadap pengetahuannya tentang kesusastraan. Sebagai seorang sastrawan dan pujangga, ia banyak menulis puisi, naskah drama, dan kajian sejarah. Puisi-puisinya menggunakan bahasa sehari-hari, termasuk kata-kata serapan asing. Secara struktural, puisi-puisi yang ditulis oleh Sanusi menyerupai bentuk pantun Melayu kuno. Bahkan, banyak juga puisinya yang membahas isu-isu filosofis. Ia juga disebut sebagai penyair Indonesia pertama yang menggunakan puisinya untuk mengungkapkan jati dirinya.
Beberapa karya terbaik Sanusi Pane, yaitu:
PUISI : Pancaran Cinta (1926), Prosa Berirama (1926), Puspa Mega (1927), Kumpulan Sajak (1927), dan Madah Kelana (1931).
NASKAH DRAMA : Airlangga (1928), Eenzame Garoedavlucht (1929), Kertajaya (1932), Sandhyakala Ning Majapahit (1933), dan Manusia Baru (1940).
KARYA SEJARAH : Sejarah Indonesia (1942), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946), dan Indonesia Sepanjang Masa (1952).
Sang Pelopor Lahirnya Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Sanusi Pane tidak hanya terkenal dengan karya-karyanya, tetapi keaktifannya dalam beberapa organisasi pergerakan, yaitu Jong Sumatra dan Gerindo. Ia juga menjadi salah satu pelopor lahirnya Bahasa Indonesia. Pada Kongres Pemuda I tahun 1926, sempat terjadi perdebatan antara Sanusi, Moh. Yamin, Djamaloedin, dan Tabrani, yang mana isi Sumpah Pemuda menyatakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Ide yang dicetuskan oleh Moh. Yamin dan Djamaloedin tersebut ditentang Tabrani. Tabrani mengkritik bahwa gagasan Moh. Yamin tidak berhubungan dengan isi Sumpah Pemuda yang kedua, yaitu berbangsa satu bangsa Indonesia karena gagasan itu tidak seutuhnya tergambarkan apabila tanpa adanya bahasa Indonesia. Tabrani pun mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Namun, hal ini juga memicu permasalahan baru karena saat itu bahasa Indonesia belum ada dan gagasan Tabrani belum kuat karena tidak ada yang mendukungnya. Sanusi yang datang terlambat, menyetujui usulan Tabrani. Momen persetujuan itu diwarnai dengan gebrakan meja yang dilakukan oleh Sanusi. Kalau memang tanah air Indonesia, kemudian bangsa Indonesia, maka harus ada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Langkah Sanusi berdampak besar pada Kongres Pemuda I dan II. Ketika Kongres Pemuda digelar pada 27-28 Oktober 1928, perdebatan sengit tersebut berakhir. Moh. Yamin dan Djamaloedin menyetujui ide Tabrani dan Sanusi. Sehingga, tercetuslah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia. Kongres tersebut adalah langkah awal terciptanya bahasa Indonesia dan sebuah Institut Bahasa Indonesia yang merupakan cikal bakal adanya Badan Bahasa sebagai instansi pengawas bahasa persatuan.
Sosok yang Terlupakan
Perjuangan Sanusi Pane dan kecintaannya terhadap bahasa Indonesia dapat dilihat dengan tugas-tugasnya dalam mengembangkan bahasa Indonesia melalui penerbit Balai Pustaka. Ia telah membuat perubahan besar dengan menggeser bahasa Belanda sebagai bahasa utama dalam penulisan buku. Bersama adiknya, Armijn Pane, ia membangun Kantor Berita Antara, kantor berita Indonesia yang menyediakan berita untuk organisasi media dalam negeri. Ia juga dianggap berjasa karena ikut memperjuangkan lahirnya satu bahasa pemersatu. Namun, sampai hari ini Sanusi Pane belum dinobatkan sebagai pahlawan nasional setelah seluruh perjuangannya menguatkan bahasa persatuan.
Pribadi yang Patut dicontoh
Ia meninggal dunia pada 2 Januari 1968. Ia meninggalkan seorang istri dan enam orang anak. Tak ada warisan berupa kekayaan yang ditinggalkan untuk anak-anaknya, apalagi rumah. Sosok Sanusi Pane yang sangat rendah hati, sederhana, dan tidak pernah membanggakan yang patutnya menjadi kebanggaan, membuat namanya jarang sekali dikenal dan hampir terlupakan. Meskipun begitu, perjuangan dan karya-karyanya tetap memiliki dampak yang besar dengan pengusulan bahasa persatuan yang masih digunakan sampai sekarang, yaitu bahasa Indonesia. Belajar dari pribadi Sanusi Pane yang rendah hati dan sederhana, sudah sepatutnya kita juga turut hidup sederhana dan tidak terlalu membanggakan diri terhadap orang lain atas pencapaian yang kita miliki. “Saya bukan apa-apa. Saya bukan apa-apa.”
Um, jujur saja, ya, Chingu. Aku juga tidak terlalu mengenal sosok beliau, tetapi pernah mendengar namanya dalam pelajaran Bahasa Indonesia waktu sekolah. Namun, entah mengapa akhir-akhir aku suka membaca biografi tokoh-tokoh sastrawan Indonesia, termasuk Sanusi Pane. Aku juga baru tahu, kalau ternyata bahasa Indonesia lahir karena perjuangan dari beliau dan rekannya. Semoga apa yang sudah beliau perjuangkan untuk negara ini, tetap memberikan dampak yang besar bagi kemajuan kita ke depan. Paling tidak, tetap melestarikan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.
Hwaiting ~