Sanggar Belajar Anak Rusmawati, Sebuah Revolusi Kecil untuk Masyarakat Pesisir Serdang Bedagai

Annyonghaseyo, Chingu

Sebulan berlalu, aku pun memiliki cerita terbaru untuk kalian. Kali ini aku ingin mengangkat kisah inspiratif dari salah satu penerima apresiasi SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia Awards di tahun 2011. Semoga cerita beliau memberi dorongan keras dan semangat yang luar biasa untukku dan juga kalian sebagai anak bangsa. Silakan menikmati kisahnya, Chingu!

Sanggar Belajar Anak Rusmawati, Sebuah Revolusi Kecil 

"Saya tidak bisa diam melihat kondisi ini," ujarnya dengan tekad yang bulat melalui binar mata yang tak bisa disembunyikannya.


Rusmawati: Sanggar Belajar Anak

Rusmawati, perempuan yang lahir pada 2 Februari 1976 di Desa Bingkat, Pegajahan, Serdang Bedagai, telah melakukan sebuah revolusi kecil untuk masyarakat pesisir di Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Dia adalah salah satu aktivitis perempuan yang tergabung dalam LSM Hapsari, organisasi yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di Serdang Bedagai. Sudah lama dia dikenal aktif dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat pesisir. Dia juga tergabung dalam Serikat Petani Pesisir dan Nelayan (SPPN).

Berbicara tentang perempuan, tentunya berkaitan erat dengan dunia anak-anak dan pendidikan. Di kampung nelayan ini, kemiskinan seolah-olah sudah menjadi suratan takdir bagi masyarakat setempat. Banyak anak yang terpaksa berhenti sekolah dan pasrah tanpa ambisi untuk meningkatkan taraf hidup ke arah yang lebih baik lagi. Kerja tak kerja, asal hidup enak, itulah semboyan mereka.

Namun, tidak dengan Rusmawati. Dia menolak untuk menyerah pada keadaan dan memilih untuk melakukan perubahan. Dengan cepat, dia mengambil langkah awal yaitu mendirikan Sanggar Belajar Anak (SBA) sebagai fondasi pendidikan yang kokoh bagi generasi muda bersama rekan-rekannya di Serikat Petani Pesisir dan Nelayan (SPPN). Dia menjelaskan bahwa ibu-ibu sebagai wali murid juga dilatih berorganisasi dan berdiskusi tentang persoalan perempuan, sosial, ekonomi, dan budaya setempat. Diskusi ini dapat membuka wawasan dan membangun kesadaran kritis mereka di kalangan para ibu.

Tidak hanya sampai di situ, Rusmawati paham betul bahwa pendidikan tanpa pemberdayaan ekonomi bagaikan pohon tanpa akar. Sehingga, lahirlah inisiatif organisasi pinjaman lunak. Dalam empat tahun terakhir, empat puluh ibu rumah tangga telah menerima pinjaman sebesar satu juta per orang. Dengan dana ini, benih harapan pun muncul. Para ibu mulai diajarkan dan dilatih beternak ayam dan bebek, berkebun sayur di pekarangan rumah, dan membuat ikan asin. Perlahan tetapi pasti, roda perekenomian mereka pun berputar. Tidak hanya senyum cerah di wajah, tetapi harapan dan impian pun mulai tumbuh di hati mereka.

Seluruh kegiatan yang dilaksanakan dalam Sekolah Belajar Anak (SBA) tidak terlepas dari bantuan dana yang berasal dari berbagai sumber, seperti Hapsari, SPPN, iuran murid yang berkisar antara Rp. 8000,- sampai Rp. 10.000,- per bulan, dan bantuan dari lembaga asing yang peduli terhadap pendidikan di wilayah terpencil. Dana ini cukup untuk menutupi honor guru dan biaya operasional sehari-hari. Selain itu, kesulitan Rusmawati dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan minimnya dukungan dari pemerintah daerah terhadap pendidikan di wilayah tersebut menjadi kendala lain yang dihadapinya. 


Rusmawati: Sanggar Belajar Anak

Program Sanggar Belajar Anak untuk anak-anak di desa pesisir telah sukses dan berhasil mengantarkan mereka melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar. Anak-anak juga mendapat pengetahuan tentang lingkungan, layanan kesehatan, dan bantuan perlengkapan sekolah. Bahkan, Rusmawati kini berhasil mendirikan lebih dari delapan sanggar di pesisir Serdang Bedagai. Dia juga memberikan pembekalan pendidikan dan pelatihan kepada perempuan-perempuan muda yang telah putus sekolah agar kelak mereka dapat membagi ilmu dan memberikan pengajaran kepada warga lainnya. 

Revolusi kecil yang telah dilakukan oleh Rusmawati terhadap masyarakat pesisir Serdang Bedagai telah memenangkan hati banyak orang, sehingga dia terpilih menjadi salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards yang diselenggarakan oleh ASTRA di tahun 2011. Penghargaan ini menjadi sebuah pengakuan besar terhadap jerih payahnya dan semangat yang luar biasa untuknya di hari ini dan masa depan Indonesia. Kontribusinya terhadap desa pesisir tak lepas sampai hari ini karena dia juga telah diangkat menjadi Pendamping Desa Pemberdayaan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di desa Karang Anyar,  kecamatan Pegajahan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Nah, kalian sudah baca kisahnya, kan? Sekarang saatnya kita sebagai generasi muda yang harus melanjutkan gebrakan Rusmawati terhadap bangsa ini. Mulai dari yang kecil saja dulu, perubahan dalam dirimu sendiri yang bertekad untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik lagi. 

Sampai jumpa di cerita berikutnya, ya, Chingu!


Referensi:

https://www.facebook.com/rusmawati.rusmawati.12935

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/inspirasi-unik/1639095-pemberdayaan-pesisir-dan-membangunan-kemandirian-dengan-medium-sanggar-belajar-anak

https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/penerima-apresiasi-tingkat-provinsi-2020/

https://nasional.tempo.co/read/1116353/menebar-inspirasi-pendidikan-dengan-membangun-kemandirian


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url