Sepotong Cerita: TIRAMISU
Annyonghaseyo, Chingu
Wah, aku sudah melewatkan waktu yang lama! Ternyata, tak berbagi cerita dengan kalian dalam kurun waktu sebulan saja rasanya sangat menyebalkan. Padahal, aku masih punya banyak cerita asyik yang ingin ku bagi. Walaupun begitu, kalian masih suka, kan, membaca ceritaku? Harus, dong!
Tulisanku kali ini akan membahas tentang hidupku yang selalu ramai dengan pertemanan. Aku tidak pernah ingin sendiri dan sepi. Padahal, masa kecilku sedikit tidak mengenakkan. Aku tidak suka sepi. Aku juga tidak suka berisik. Lalu, apa yang ku suka?
Aku suka persahabatan. Saat duduk di bangku SMU, aku mulai membentuk geng dengan teman-teman di sekolah. Nama geng kami adalah Tiramisu yang artinya istimewa dan menyegarkan. Geng kami terdiri dari 10 (sepuluh) orang, 4 (empat) anak perempuan dan 6 (enam) anak laki-laki dari kelas yang berbeda. Suka duka, pro kontra, perselisihan, dan pertengkaran terjadi berulang kali dalam persahabatan kami. Akan tetapi, tak pernah sedikit pun memutuskan perasaan kami untuk tetap menggenggam ikatan ini dengan erat.
Apalagi, jika membahas tentang cinta, sebuah topik yang renyah dan gurih. Ada cinta lokasikah di dalam grup ini? Sudah pasti ada. Namun, tidak semulus cerita di FTV. Ada yang saling menyukai, bahkan ada pula yang terjebak dalam segitiga bermuda. Eh, ada juga yang cinta diam-diam. Hihi. Aku tidak akan menuliskan namanya satu-persatu karena aku pun ada di dalam cerita itu. Haha. Cinta rasa monyet itu tidak lama, hanya bertahan sampai kami tamat sekolah. Setelah itu, kami melanjutkan pendidikan masing-masing sesuai dengan impian. Jarak bukan persoalan, waktu juga bisa disesuaikan. Walaupun, dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun kami berpisah, long distance friendship, jalinan ini tetap teguh dan tegak pada porosnya.
Dua puluh satu tahun sudah persahabatan ini terjalin. Tak ku sangka kami sudah menjadi orang tua dari anak-anak yang berbahagia. Bahkan, kami memiliki kehidupan rumah tangga yang berkecukupan, harmonis, dan luar biasa. Setelah menikah pun, kami masih sempat meluangkan waktu untuk bertemu jika sedang berada di kampung halaman, Pematangsiantar. Persahabatan yang indah. Tentu saja karena selalu ada orang yang mengingatkan keberadaan Tiramisu di manapun kami berada.
Hai, Rika Anggreini, Sandi Putri, Khairina Septiani, Ahmad Zainardo Hasibuan, Agung Anggriawan Bakar, Asrizal Harahap. Abdul Harris Fadhilah, Abidan Gesa Turnip, dan Muhammad Adi, kiranya kalian sehat-sehat terus, selalu dalam lindungan Allah SWT, dan panjang umur. Semoga kita selalu dipertemukan dalam keadaan suka dan duka. Aku merindukan kalian, ku harap kalian pun merindukanku.
Ah, kurasa cerita ini sampai di sini dulu, ya, Chingu. Air mataku sudah hampir menetes. Sudah lama aku tak bertemu dengan mereka, jadi rinduku sudah menggunung. Apalagi, ini, kan, malam 1 Ramadan 1446 H, suasana ini semakin merindukanku dengan semua kenangan manis, kegilaan di luar nalar, dan kehebohan kami di masa-masa itu. Pastinya kalian pun memiliki rasa persahabatan sepertiku. Semoga persahabatan kalian juga tetap teguh dan tegak pada porosnya, ya, Chingu.
Hwaiting ~